PERLINDUNGAN HUKUM ATAS KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN

By fahrian 20 Des 2018, 14:41:07 WIB Hukum
PERLINDUNGAN HUKUM ATAS KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN

OLEH : PADLI YANNOR

Minimnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan habitat sungai yang terdapat banyak dihuni oleh berbagai jenis ikan dan udang dengan penangkapan ikan menggunakan alat setrum membuat ikan sungai semakin berkurang dan mengalami penurunan secara drastis, selain menggunakan alat setrum penangkapan ikan menggunakan racun seperti potasium juga turut mengurangi populasi jenis ikan di danau sungai, rawa, dan persawahan, ditambah dengan air sungai yang tercemar limbah membuat keberlangsungan berbagai jenis ikan tidak dapat bertahan lama.

Maraknya penangkapan ikan dengan alat setrum menggunakan daya listrik yang bersumber dari ACCU (Aki) membuat ikan endemik seperti haruan, puyau, sapat,saluang dan ikan lainnya mulai berkurang dan sulit didapat, penggunaan alat setrum selain berbahaya bagi penggunanya, juga dapat mematikan ikan dan telurnya serta anak ikan yang tidak kuat terkena aliran setrum di dalam air. Mungkin karena alasan mudah serta banyaknya ikan yang didapat menggunakan alat tangkap setrum, membuat masyarakat meninggalkan cara menangkap ikan secara tradisional seperti menjaring, melunta, mehancau atau memancing dengan makin banyak penyetrum ikan mencari ikan di danau sungai rawa-rawa dan persawahan dengan cara disetrum atau di potas, ikan dan telurnya akan mati membuat benih ikan tidak berkembang biak, Penggunaan alat setrum yang praktis dan murah serta mendapat hasil yang banyak membuat masyarakat tertarik mencari ikan dengan alat setrum, bermodal aki sepeda motor bekas, kawat dan kabel sudah dapat menyetrum ikan di danau sungai rawa dan sawah.

Kelestarian perairan baik air tawar dan laut sebenarnya menjadi tanggung jawab semua komponen baik pemerintah maupun masyarakat. Bila sungai, danau, rawa, sawah, pantai dan laut sudah tidak ada ikannya, maka manusia mulai merasakan betapa pentingnya kelestarian alam itu, tetapi kadangkala sesuatunya sudah terlambat. Seperti punahnya berbagai jenis ikan air tawar di sungai, Kalau diracun atau disetrum maka lambat laun ikan-ikan kita akan habis, entah itu ikan berukuran besar atau anakan semuanya mati. Sehingga jangan bingung kalau ke depannya masyarakat akan kesulitan mendapatkan ikan di danau, Sungai, rawa dan sawah. Tidak ada lagi proses regenerasi untuk mengembalilan populasi ikan, demikian dengan setrum ikan. Kendati juga membahayakan pelakunya, namun aktivitas ini ternyata masih marak dilakukan oknum-oknum tidak bertanggungjawab saat musim kemarau dan Dampak menyetrum juga hampir sama, semua ikan pasti mati. Tapi lebih berbahaya meracun, sebab bahan kimia yang terlarut dalam air ditakutkan membahayakan manusia. Apalagi sebagian masyarakat masih memanfaatkan sungai untuk berbagai kebutuhan seperti mandi dan minum, Aksi menangkap ikan dengan cara meracun dan menyetrum sangat tidak ramah lingkungan, terutama terhadap keberlangsungan sumber daya perikanan untuk jangka panjang.

 

Dalam menjaga kelestarian sumber daya hayati kelautan dan perikanan pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Laut sudah jelas mengatur dalam Peraturan Daerah yang tertuang dalam Pasal 4 Ayat (1) dan (2) Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Laut Nomor 9 Tahun 2006 tentang Penangkapan Ikan dan Perlindungan Sumber Daya Perikanan ( Perairan Laut dan Perairan Umum) yang isinya

  1. Bahan yang tidak boleh digunakan untuk penangkapan ikan yang bersifat dapat mengganggu atau membahayakan kelestarian sumberdaya perikanan seperti potas (HCN), desis, tuba, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan bahan terlarang lainnya yang dapat mengganggu kelestarian sumber daya hayati kelautan dan perikanan.
  2. Alat penangkap ikan yang tidak boleh digunakan untuk penangkapan ikan adalah jenis alat tangkap yang dapat mengganggu, membahayakan kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan seperti jaring trawl, tangkalak dan alat setrum (AC/DC).

 

Salah satu cara mungkin dengan memberikan penyuluhan atau sosialiasi terkait larangan setrum dan racun, sehingga populasi ikan tetap terjaga untuk keberlangsungan anak cucu kita nanti serta peran serta masyarakat desa untuk sama-sama mengawasi dan menjaga segala aktivitas yang merusak lingkungan, sebab yang paling merasakan dampak negatifnya adalah warga sekitar sungai atau danau itu sendiri, oleh karna itu peran Pemerintah dan penegak hukum harus serius memberikan perhatian terhadap oknum-oknum yang melakukan pelanggaran saat menangkap ikan di sungai. Tidak boleh dibiarkan, perlu mendapat perhatian serius,

Mengenai penindakan oknum penyetruman ini sebenarnya ada landasan hukumnya yakni Undang-Undang (UU) No. 45 Tahun 2009 Pasal 85 tentang Perikanan.

Isinya setiap orang yang dengan sengaja memiliki menguasai membawa menggunakan alat penangkap ikan, alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap ikan dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 2 miliar.

Dari aturan itu sudah jelas bagi pelaku penyetruman ikan maka akan diproses secara hukum, tata cara penangkapan ikan yang dilakukan sejumlah oknum warga dengan cara meracun dan setrum akan berakibat fatal, terutama demi keberlangsungan ketersediaan ikan dalam jangka panjang, tidak hanya itu air bekas limbah bahan kimia pun akan berdampak bagi warga yang mengandalkan air sungai untuk berbagai keperluan sehari- hari, yang pasti aktivitas penangkapan ikan tersebut tanpa disadari akan berkontribusi merusak alam terutama ekosistem sungai.

 

 




Tulis Komentar di Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar


Jejak Pendapat

Bagaimana menurut anda Informasi yang disajikan di website ini?
  Sangat Menarik
  Menarik
  Kurang Menarik
  Biasa saja

Komentar Terakhir

  • tuning

    sangat membantu saya untuk memperdalam pemahaman tentang pembagian kewenangan pemerintah,,, ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video